Biodata 4 imam mazhab
- Imam asyafi’I
Nama lengkap Imam Syafi'i adalah Abu Abdullah
Muhammad bin Idris asy-Syafi'i al-Muththalibi al-Qurasyi. Ia lahir pada tahun
150 H atau 767 M. Ada perbedaan pendapat di kalangan ahli sejarah terkait
tempat lahir Imam Syafi'i. Ada yang mengatakan di Gaza, ada juga yang
berpendapat di Asqalan, dekat Gaza. Ketika berumur dua tahun, Imam Syafi'i
dibawa ke tanah leluhurnya di Mekkah oleh sang ibu, setelah ayahnya meninggal.
Sejak kecil, Imam Syafi'i pandai dalam sastra Arab, di mana ia mampu menghafal
berbagai syair-syair Arab. Berkat bimbingan ibunya, Fatimah, ia mampu membaca
dan menghafal Al Quran. Setelah itu, ia berguru kepada Sufian bin Uyainah,
salah satu ahli hadis di Mekkah. Imam Syafi'i juga berguru kepada Muslim bin
Khalid Al-Zanji, yang merupakan ahli fikih di Mekkah. Pada 780, ketika berusia
13 tahun, ia berangkat ke Madinah untuk berguru kepada Imam Malik, yang
merupakan ahli fikih dan hadis sekaligus pendiri Mazhab Abu Yaqub al-Buwaithi,
Ismail al-Muzani, dan Rabi’ al-Muradi. Imam Syafi'i juga banyak merevisi
fatwanya dengan yang baru atau lebih dikenal dengan Mazhab Jadid. Fatwa revisinya tersebut dicantumkan dalam
kitab Imam Syafi'i yang berjudul Al-Umm. Seiring berjalannya waktu, Mazhab
Syafi'i menyebar dari Mesir kemudian populer di kalangan ulama Islam Sunni.
Imam Syafi'i menghabiskan sisa hidupnya di Mesir hingga meninggal pada 204 H
atau 821 M.
- Imam Hambali
Awal mula Menuntut Ilmu
Ilmu yang pertama kali dikuasai adalah Al
Qur'an hingga ia hafal pada usia 15 tahun, ia juga mahir baca-tulis dengan
sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. Lalu, ia mulai
konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu pula. Ia telah
mempelajari Hadits sejak kecil dan untuk mempelajari Hadits ini, ia pernah
pindah atau merantau ke Syam (Syiria), Hijaz, Yaman dan negara-negara lainnya sehingga ia
akhirnya menjadi tokoh ulama yang bertakwa, saleh, dan zuhud. Abu Zur'ah mengatakan bahwa kitabnya yang sebanyak
12 buah sudah dihafalnya di luar kepala. Ia menghafal sampai sejuta
hadits. Imam Syafi'i mengatakan tentang diri Imam Ahmad,
"Setelah saya keluar dari Baghdad, tidak ada orang yang saya tinggalkan
di sana yang lebih terpuji, lebih shaleh dan yang lebih berilmu daripada Ahmad
bin Hambal". Abdur Rozzaq Bin Hammam yang juga salah seorang guru dia pernah
berkata, "Saya tidak pernah melihat orang se-faqih dan se-wara' Ahmad
Bin Hanbal"[2]
Keadaan fisik
Muhammad bin ‘Abbas An-Nahwi bercerita, Saya
pernah melihat Imam Ahmad bin Hambal, ternyata Badan dia tidak terlalu tinggi
juga tidak terlalu pendek, wajahnya tampan, di jenggotnya masih ada yang hitam.
Ia senang berpakaian tebal, berwarna putih dan bersorban serta memakai kain.
Yang lain mengatakan, “Kulitnya berwarna coklat (sawo matang)”
Keluarga
Dia menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah. Ia memiliki anak-anak yang shalih dari istri-istinya, yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya.
Kecerdasan
Putranya yang bernama Shalih mengatakan, ayahku
pernah bercerita, “Husyaim meninggal dunia saat saya berusia dua puluh tahun,
kala itu saya telah hafal apa yang kudengar darinya”.
Abdullah, putranya yang lain mengatakan, Ayahku
pernah menyuruhku, “Ambillah kitab mushannaf Waki’ mana saja yang kamu
kehendaki, lalu tanyakanlah yang kamu mau tentang matan nanti kuberitahu
sanadnya, atau sebaliknya, kamu tanya tentang sanadnya nanti kuberitahu
matannya”.
Abu Zur’ah pernah ditanya, “Wahai Abu Zur’ah,
siapakah yang lebih kuat hafalannya? Anda atau Imam Ahmad bin Hambal?” Dia
menjawab, “Ahmad”. Ia masih ditanya, “Bagaimana Anda tahu?” dia menjawab, “Saya
mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi, karena dia
hafal nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya”. Abu
Zur’ah mengatakan, “Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”.
Pujian Ulama
Abu Ja’far berkata, “Ahmad bin Hambal manusia
yang sangat pemalu, sangat mulia dan sangat baik pergaulannya serta adabnya,
banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits dan menyebut
orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan yang
indah. Bila berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan menghadapkan
wajahnya kepadanya. Ia sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta
menghormatinya.”
Imam Asy-Syafi’i berkata, “Ahmad bin Hambal
imam dalam delapan hal, Imam dalam hadits, Imam dalam Fiqih, Imam dalam bahasa,
Imam dalam Al Qur’an, Imam dalam kefaqihan, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam
wara’ dan Imam dalam Sunnah”.
Ibrahim Al Harbi berkata, “Saya melihat Abu Abdillah Ahmad
bin Hambal seolah Allah gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan
orang-orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu”.
Abdullah bin al-Maimuni berkata, "Tidak
ada yang lebih mulia yang pernah dilihat oleh mataku, selain Imam Ahmad bin
Hambal. Tidak ada seorangpun dari ahli hadits yang paling mengagungkan
larangan-larangan Allah dan Sunnah Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam jika benar
menurutnya, dan tidak ada seseorangpun yang lebih kuat dalam mengikutinya
selain dari Ahmad."
Abu Bakar as-Sijistani berkata, "Aku
pernah bertemu dengan 200 guru-guru ilmu, tidak ada satupun yang menyerupai
Imam Ahmad bin Hambal. Dia betul-betul menyelami ilmu, dan jika disebutkan
suatu ilmu, dia ahlinya."
Abdul Wahhab Al-Warraq berkata, "Abu
Abdullah adalah pemimpin kami, dia adalah orang yang matang dalam ilmu. Jika
aku berada dihadapan Allah kelak, dan aku ditanya, "Siapa orang yang kamu
ikuti?" aku akan katakan, "Aku mengikuti Ahmad bin Hambal."
Sungguh Imam Ahmad bin Hambal telah teruji keilmuannya selama 10 tahun tentang
Islam."
Kezuhudannya
Dia memakai peci yang dijahit sendiri. Dan
kadang dia keluar ke tempat kerja membawa kampak untuk bekerja dengan
tangannya. Kadang juga dia pergi ke warung membeli seikat kayu bakar dan barang
lainnya lalu membawa dengan tangannya sendiri. Al Maimuni pernah berujar,
“Rumah Abu Abdillah Ahmad bin Hambal sempit dan kecil”.
Wara’ dan menjaga harga diri
Abu Isma’il At-Tirmidzi mengatakan, “Datang
seorang lelaki membawa uang sebanyak sepuluh ribu (dirham) untuk dia, tetapi
dia menolaknya”. Ada juga yang mengatakan, “Ada seseorang memberikan lima ratus
dinar kepada Imam Ahmad namun dia tidak mau menerimanya”. Juga pernah ada yang
memberi tiga ribu dinar, tetapi dia juga tidak mau menerimanya.
Tawadhu’ dengan kebaikannya
Yahya bin Ma’in berkata, “Saya tidak pernah
melihat orang yang seperti Imam Ahmad bin Hambal, saya berteman dengannya
selama lima puluh tahun dan tidak pernah menjumpai dia membanggakan sedikitpun
kebaikan yang ada padanya kepada kami”.
Dia (Imam Ahmad) mengatakan, “Saya ingin
bersembunyi di lembah Makkah hingga saya tidak dikenal, saya diuji dengan
popularitas”.
Al Marrudzi berkata, “Saya belum pernah melihat
orang fakir di suatu majlis yang lebih mulia kecuali di majlis Imam Ahmad, dia
perhatian terhadap orang fakir dan agak kurang perhatiannya terhadap ahli dunia
(orang kaya), dia bijak dan tidak tergesa-gesa terhadap orang fakir. Ia sangat
rendah hati, begitu tinggi ketenangannya dan sangat memuka kharismanya”.
Dia pernah bermuka masam karena ada seseorang
yang memujinya dengan mengatakan, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas
jasamu kepada Islam?” dia mengatakan, “Jangan begitu tetapi katakanlah, semoga
Allah membalas kebaikan terhadap Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya dan
apa (jasa) saya?!”
Sabar dalam menuntut ilmu
Tatkala dia pulang dari tempat Abdurrazzaq yang
berada di Yaman, ada seseorang yang melihatnya di Makkah dalam keadaan sangat
letih dan capai. Lalu ia mengajak bicara, maka Imam Ahmad mengatakan, “Ini
lebih ringan dibandingkan faidah yang saya dapatkan dari Abdurrazzaq”.
Hati-hati dalam berfatwa
Zakariya bin Yahya pernah bertanya kepada dia,
“Berapa hadits yang harus dikuasai oleh seseorang hingga bisa menjadi mufti?
Apakah cukup seratus ribu hadits? Dia menjawab, “Tidak cukup”. Hingga akhirnya
ia berkata, “Apakah cukup lima ratus ribu hadits?” dia menjawab. “Saya harap
demikian”.
Kelurusan aqidahnya sebagai standar kebenaran
Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauruqi mengatakan, “Siapa
saja yang kamu ketahui mencela Imam Ahmad maka ragukanlah agamanya”. Sufyan bin
Waki’ juga berkata, “Ahmad di sisi kami adalah cobaan, barangsiapa mencela dia
maka dia adalah orang fasik”.
Masa Fitnah
Pemahaman Jahmiyyah belum berani
terang-terangan pada masa khilafah Al Mahdi, Ar-Rasyid dan Al Amin, bahkan
Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats Al Marisi yang
mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluq. Namun dia terus bersembunyi pada
masa khilafah Ar-Rasyid, baru setelah dia wafat, dia menampakkan kebid’ahannya
dan menyeru manusia kepada kesesatan ini.
Pada masa Khalifah Al Ma’mun, orang-orang
Jahmiyyah berhasil menjadikan paham Jahmiyyah sebagai ajaran resmi negara, di
antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Qur’an makhluk. Lalu penguasa pun
memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Al Qur’an makhluk, terutama
para ulamanya.
Barangsiapa mau menuruti dan tunduk kepada
ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan penderitaan. Bagi yang menolak
dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Al Qur’an Kalamullah bukan makhluk maka
dia akan mencicipi cambukan dan pukulan serta kurungan penjara.
Karena beratnya siksaan dan parahnya
penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang akhirnya mengucapkan
apa yang dituntut oleh penguasa zhalim meski cuma dalam lisan saja. Banyak yang
membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat
dari segala siksaan dan penderitaan, tetapi dia menjawab, “Bagaimana kalian
menyikapi hadits “Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab, yaitu sabda Nabi
Muhammad ada yang digergaji kepalanya namun tidak membuatnya berpaling dari
agamanya”. HR. Bukhari 12/281. lalu dia menegaskan, “Saya tidak peduli dengan
kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja”.
Ketegaran dan ketabahan dia dalam menghadapi
cobaan yang menderanya digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, “Saya belum pernah
melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hambal,
kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat”.
Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat
dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa, dia masih berpikir jernih dan tidak
emosi, tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah
ilmunya. Ia mengatakan, “Semenjak terjadinya fitnah saya belum pernah mendengar
suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang
Arab Badui kepadaku, “Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka
anda mati syahid, dan jika anda selamat maka anda hidup mulia”. Maka hatiku bertambah
kuat”.
Ahli hadits sekaligus juga Ahli Fiqih
Ibnu ‘Aqil berkata, “Saya pernah mendengar hal
yang sangat aneh dari orang-orang bodoh yang mengatakan, “Ahmad bukan ahli
fiqih, tetapi hanya ahli hadits saja. Ini adalah puncaknya kebodohan, karena
Imam Ahmad memiliki pendapat-pendapat yang didasarkan pada hadits yang tidak
diketahui oleh kebanyakan manusia, bahkan dia lebih unggul dari seniornya”.
Bahkan Imam Adz-Dzahabi berkata, “Demi Allah,
dia dalam fiqih sampai derajat Laits, Malik dan Asy-Syafi’i serta Abu Yusuf.
Dalam zuhud dan wara’ dia menyamai Fudhail dan Ibrahim bin Adham, dalam hafalan
dia setara dengan Syu’bah, Yahya Al Qaththan dan Ibnul Madini. Tetapi orang
bodoh tidak mengetahui kadar dirinya, bagaimana mungkin dia mengetahui kadar
orang lain!!
Akhir Hayat
Imam Ahmad bin Hambal mulai sakit pada malam
Rabu, dua hari dari bulan Rabi'ul Awwal tahun 241 Hijriyyah, ia sakit selama
sembilan hari. Tatkala penyakitnya mulai parah dan warga sekitar mulai
mengetahuinya, maka mereka menjenguknya siang dan malam.
Penyakitnya kian hari kian parah, pada hari
Kamis dan sebelum wafat ia memberikan isyarat pada keluarganya agar ia
diwudhukan, kemudian mereka pun mewudhukannya. Ketika berwudhu, Imam Ahmad
sambil berzikir dan memberikan isyarat kepada mereka agar menyela-nyela
jarinya. Dia menghembuskan napas terakhirnya di pagi hari Jum’at bertepatan
dengan tanggal 12 Rabi’ul Awwal 241 H pada umur 77 tahun di kota Baghdad. Ia
dimakamkan di pemakaman al-Harb, orang yang bertakziah tidak bisa dihitung
jumlahnya saking banyaknya ada yang mengatakan jumlahnya mencapai 1.7 juta
pelayat. Hal ini merupakan bukti dari perkataan beliau ke para dedengkot
bid’ah: “Antara kami dan kalian adalah hari ketika menjadi jenazah.”
Sampai-sampai Abdul Wahhab Al-Warraq berkata: “Kami tidak pernah mendengar ada
rombongan pada masa jahiliyah, tidak juga pada masa Islam berkumpul ke satu
jenazah yang jumlahnya melebihi berkumpulnya orang-orang ke jenazah Ahmad.
- Imam
malik
Imam Malik adalah imam kedua dari imam empat
dalam islam dari segi umur beliau lahir 13 tahun sesudah Abu Hanifah.Nama
lengkapnya adalah Abu Abdullah Malik Ibn Anas Ibn Malik Ibn Abi Amir Ibn Amir
bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al-Asbahi al-Humairi. Beliau
merupakan imam dar Al-Hijrah. Nenek moyang mereka berasal dari Bani Tamim bin
Murrah dari suku Quraisy. Malik adalah saudara Utsman bin Ubaidillah At-Taimi,
saudara Thalhah bin Ubaidillah.Beliau lahir diMadinah tahun 93 H, beliau berasal
dari keturunan bangsa Himyar, jajahan Negeri Yaman. Ayah Imam Malik adalah Anas
Ibn Malik Ibn Abi Amir Ibn Abi Al-Haris Ibn Sa’ad Ibn Auf Ibn Ady Ibn Malik Ibn
Jazid. Ibunya bernama Siti Aliyah binti Syuraik Ibn Abdul Rahman Ibn Syuraik
Al-Azdiyah. Ada riwayat yang mengatakan bahwa Imam Malik berada dalam kandungan
ibunya selama 2 tahun ada pula yang mengatakan sampai 3 tahun.
Imam Malik Ibn Anas dilahirkan saat menjelang
periode sahabat Nabi SAW di Madinah. Tidak berbeda dengan Abu Hanifah, beliau
juga termasuk ulama zaman, ia lahir pada masa Bani Umayyah tepat pada
pemerintahan Al- walid Abdul Malik ( setelah Umar ibn Abdul Aziz) dan meninggal
pada zaman Bani Abbas, tepatnya pada zaman pemerintahan Al-Rasyud (179 H). Imam
Malik menikah dengan seorang hamba yang melahirkan 3 anak laki-laki (Muhammad,
Hammad dan Yahya) dan seorang anak perempuan (Fatimah yang mendapat julukan Umm
al-Mu’minin). Menurut Abu Umar, Fatimah temasuk di antara anak-anaknya yang
dengan tekun mempelajari dan hafal dengan baik Kitab al-Muwatta’. Pada tanggal 10 Rabi'ul Awwal 179 H, Imam Malik
mulai jatuh sakit. Ia kemudian wafat di usia 83 atau 84 tahun di Madinah pada
795 M. Jenazahnya kemudian dimakamkan di pemakaman Al-Baqi di seberang
Masjid Nabawi di Madinah.
- Imam Hanafi
Nama lengkap Imam Abu Hanifah ialah Abu Hanifah
al-Nu’man bin Tsabit Ibn Zutha al-Taimy, lebih dikenal dengan sebutan Abu
Hanifah. Ia berasal dari keturunan Persia, lahir di Kufah tahun 80 H / 699 M
dan wafat di Baghdad tahun 150 H / 767 M1 . Pada masa beliau dilahirkan Islam
berada di tangan Abd. Malik bin Marwan, Raja Bani Umayyah yang ke-5 . Ia hidup
selama 52 tahun pada zaman Umayyah dan 18 tahun pada zaman Abbasiah, selama
hidupnya ia melakukan ibadah haji selama 55 kali . Beliau diberi gelar Abu Hanifah,
karena diantara putranya ada yang bernama Hanifah. ada lagi menurut riwayat
lain beliau bergelar Abu Hanifah, karena begitu taatnya beliau beribadah kepada
Allah SWT, yaitu berasal dari bahasa Arab Hanif yang berarti condong atau
cenderung kepada yang benar. menurut riwayat lain pula, beliau diberi gelar Abu
Hanifah, karena beliau dekat dan eratnya berteman dengan tinta. Hanifah menurut
bahasa Irak adalah tinta. Pada tahun 763, Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur sedang mencari
seorang hakim yang dapat menegakkan keadilan di Irak. Khalifah pun segera
mengutus orang untuk bertemu Imam Hanafi dan menawarkan posisi hakim tersebut
karena dinilai sangat cocok untuknya. Sewaktu tawaran tersebut ditolak,
khalifah murka dan kemudian mengurung Imam Hanafi di dalam penjara. Imam Hanafi
wafat pada tahun 767 ketika masih dipenjara. Disebutkan bahwa ia dipukul hingga
meninggal. Tetapi ada riwayat lain yang menyatakan bahwa ia mengonsumsi makanan
yang telah diracun. Meninggalnya Imam Hanafi menjadi kehilangan yang amat besar
bagi umat Islam. Bahkan salat jenazahnya dilakukan sebanyak enam gelombang, di
mana masing-masing gelombang diikuti sebanyak 50.000 jamaah.

0 Komentar